nothing

Posted: Juni 16, 2012 in Uncategorized
Indah terasa tatkala bibirmu mendarat di keningku. Kumerasakan rasa sayangmu yang sangat dalam kepadaku. Aku percaya kau takkan menyia-nyiakanku. Dan aku percaya hanya kamu di hatiku, hanya aku di hatimu. Tapi itu semua musnah. Kata-kata yang sangat aku yakini lenyap kumakan sendiri bak anjing kelaparan. Mataku tak bisa berbohong, hatiku terselimuti oleh nafsu iblis api. Hanya karena mempesona, lelaki satu dan lelaki yang lain aku kejar. Mataku memang  buta. Semua lelaki bodoh itu terperangkap dalam buaian mulutku. Aku baru sadar kalau apa yang aku lakukan itu semua menyakiti orang lain. Padahal, tak ada satu pun dari mereka yang aku cintai. Aku memang wanita tak baik. Itu semua kulakukan hanya untuk memenuhi nafsuku. Bahkan, beberapa dari mereka menangis di hadapanku. Anehnya, tak ada rasa tega di hatiku. Mataku tak memperhatikan itu semua. Putuslah hubunganku dengan mereka.
Namun, aku lega tak memikirkan lelaki-lelaki pecinta nafsu itu. Aku dendam dengan para lelaki setelah aku dipermainkan semena-mena. Aku selalu baik padanya, bahkan semuanya telah aku berikan. Aku merasa aku mencintainya. Cinta mati, tapi itu di mulutku. Sedangkan hatiku selalu ingin menyakiti dia. Apa memang aku sudah merasa dari dulu bahwa dia hanya membuatku memasuki dunia hitam. Aku selalu menuruti pintanya. Sedangkan dia hanya meninggalkanku begitu saja hanya karena urusan sekolah. Tak logis, memang tak logis. Akhir-akhirnya yang kuterima adalah penyesalan. Dan berakhir pada rasa dendam. Rasa dendam kepada semua lelaki. Dan kuanggap semua lelaki itu sama saja atau lebih baik dikatakan sebagai pecinta nafsu.
Sampai detik itu, rasaku ingin sekali menyakiti seorang lelaki terbilang cukup tinggi. Hingga akhirnya, rasa lelah itu datang. Rasa lelah itu ada. Memang ada. Semua lelaki yang menjalin hubungan denganku tak kupikirkan. Hingga akhirnya, datang seorang lelaki. Lelaki yang kuaki sudah memikat dari dulu karena sikapnya yang menghargai wanita. Hatiku ingin sekali memilikinya. Tapi, apakah mungkin ? Dia adalah bekas dari sahabatku. Sahabat ku bilang sahabat tapi ku benci sejak kecil. Karena dia, aku terpaksa membohongi hatiku sendiri. Hati yang berkata bahwa aku sangat menyanyangi kekasihnya. Hingga itu semua menjadi masalah besar, dan membuatku perlahan memasuki dunia hitam. Tapi, rasa sayangku sekarang terjawab sudah tatkala dia menyatakan rasa kepadaku dan aku rela meninggalkan kekasih-kekasihku.
Kujalani hubungan itu dengan dia. Aku rasa ada kejanggalan. Dan itu terbukti sikapnya yang sangat terlalu kepada semua wanita. Dan aku pun rela jujur demi hubunganku dengannya. Sebuah rahasia besar yang harus dan harus aku katakan kepadanya karena aku yakin dia yang hanya aku cinta. Dan perkataan itu takkan aku cabut dari mulutku, dari tingkahku, bahkan dari hatiku.
Hari-hari selalu aku jalani dengan rasa cemburu, karena sikapnya dengan wanita lain tepat di hadapanku. Setiap malam  aku hanya menangis merasakan itu semua. Tiga bulan berpacaran itu semua yang aku rasakan. Aku selalu menangis. Hingga aku tak kuat menahan itu semua. Hubunganku goyah dan sedikit retak. Namun, aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya, dan tak mau kehilangannya. Dan itu pula dirasakan olehnya. Hingga perkataan dia membuat aku sadar, bahwa karma sedang memelukku. Karma karena dulu selalu membuat lelaki menangis, dan kini aku yang menangis. Aku baru sadar. Dan ku ingin membuktikan  apa yang ada di hatiku. Dengan merubah sikapku. Dan perlahan karma itu hilang dari hidupku. Aku bahagia dengan dirinya. Dan aku berjanji takkan menyia-nyiakannya. Selalu mencintai dan menyayanginya. Dan takkan menghianatinya serta selalu ada di sisinya. Aku berharap itu untuk selamanya.
 
Debur ombak membuyarkan lamunanku. Semilir angin laut menyingkapkan kegalauan hatiku. Kutermangu seorang diri di sudut pesisir pantai. Ditemani rimbunan lambaian daun kelapa yang tersingkap sang bayu. Menanti sang surya kembali ke peradabannya. Dengan semburat sinar orange di singgasana angkasa. Aku tersenyum terbayang sosok pria yang seharusnya tak kulamunkan. Rupa nan menawan terbayang-bayang di anganku. Terlihat jelas di langit senja. Aku berpikir, tak pernah aku membayangkan sesosok pria hingga membuatku lupa akan segala sesuatu yang kuanggap itu sangat penting. Suara lembut sayup-sayup terngiang di telingaku membuat lamunanku pudar. Kubalikkan mukaku. Terlihat sosok wanita memanggilku dengan seorang pria di sisinya. Aku tersenyum manis. Segera kulangkahkan kaki menuju mereka berdua. Kutatap mata mereka. Terlihat binar kebahagiaan terpancar dari keduanya.
“ Hey, Vita, apa kabar ? “ sapa Lia sembari memelukku.
Dengan senyum di sudut bibir aku pun membalas pelukannya. Sesaat, kembali terbias wajah sesosok pria yang selama ini aku lamunkan. Mataku menyudut tajam ke arah mata indah seorang pria yang ada di sisi sahabatku. Bak melayang ragaku menatap indah matanya. Laksana bertemu sesosok pangeran idaman hati yang telah lama di nanti.
Hey, what are you think ?” bentak Lia memudarkan lamunanku.
“Ini Vino kekasihku, Vita. Vino, ini Vita sahabat terbaikku.”lanjutnya.
Pria itu menjulurkan tangan dan aku pun demikian. Terasa erat genggamannya. Serasa tak mau lepas darinya. Kutatap matanya dalam-dalam. Mencoba berbicara dengan hatinya. Menikmati sorot indah matanya dan erat genggamannya ternyata tak lama. Lia menarik jemari Vino dan tersenyum kepadaku. Kembali hanya kubalas dengan senyuman. Kami bertiga kemudian turun ke pesisir pantai. Berjalan bertiga tak membuat hatiku nyenyak. Hanya ingin berdua dengan pria itu. Jatuh cinta dengan pria yang sangat sempurna itu memang sulit rasanya. Lain dengan hatiku. Hanya sejenak menatap matanya, hati ini bak berkata cinta, berkata my first love. Aku tak memikirkan yang lain. Hanya pria itu yang kini ada di benakku.
Di sudut pantai kami singgah di bawah rimbuanan pohon kelapa dengan sorot lampu taman di kedua sisinya. Beribu kata atau berjuta kata entah berapa meluncur begitu saja dari bibir mereka berdua. Aku hanya membisu mendengarkan ocehan mereka yang tak disangka membuat hati ini menguap panas. Tak lama kemudian, aku terasa dirundung cemburu. Mataku yang sedari tadi menatap indah sang surya yang tengah kembali ke peradabannya, terpaksa berbalik arah tersudut menatap mereka berdua dengan bibir bergalut mesra di sisiku.Rasanya seperti nikmat saat pria itu mengecup sahabatku dan anganku tentang itu kubiarkan muncul begitu saja. Dengan bergalut dan melingkarkan tangan satu sama lain mereka sangat menikmatinya dan tak ada rasa malu sedikitpun dengan aku yang berada di sampingnya. Mungkin budaya Eropa selama dua tahun telah erat mendekapnya.
Tak kuat aku menatap itu semua dan bermaksud meninggalkan mereka berdua. Aku berdiri, namun dia tiba-tiba menarik tangannku dan mempersilakan aku duduk kembali menemani kekasihnya karena ia akan menemui bundanya sebentar.
Aku berpikir inilah kesempatan terbaikku. Aku berusaha menyita pandangannya dengan pakaian yang melekat di tubuhku dan wajah yang berada indah di kepalaku. Kusingkap perlahan dan sedikit beberapa guratan yang ada di rokku. Aku tersenyum dengan manis menatap metafora senja. Dan itu pun berhasil. Pria itu memandangku dengan mata indahnya yang berbinar-binar.
“Vita, boleh aku minta kontakmu ?” tanyanya dengan membalikkan tubuhku menghadapnya.
Aku tersenyum dan perlahan mengulurkan telepon genggamku ke arahnya. Tak lama kemudian pria itu mengembalikan telepon genggamku tersebut. Kembali kusingkap lebih pendek bajuku dengan maksud agar pria itu tergoda kepadaku. Mengejutkan, dan mengagetkan. Kubiarkan saja pria itu membelai lembut rambutku dan perlahan mengecup bibir manisku. Rasanya seperti di singgasana surga. Anganku yang baru saja terbayang ternyata telah terjawab dengan sempurna. Kurasa nafasku sesak dan kulepaskan kecupannya dari bibirku. Kulepaskan pelukannya dari tubuhku. Aku tersenyum kepadanya. Dia pun dengan manisnya membalas senyumanku. Tak lama kemudian ia kembali memeluk tubuhku dengan eratnya. Kubalas pelukannya dengan sangat erat. Bibirnya kembali mengecupku. Kupejamkan mataku. Di tengah indahnya senja, kedua insan saling berpagutan mesra seakan dunia hanya milik kami. Namun, aku tersentak saat tiba-tiba dia melepas kenikmatan itu semua. Ternyata sahabatku sudah berjalan dari jauh. Aku berpamitan kepada pria itu untuk pergi kembali ke penginapan dan aku berpesan menyampaikan hal tersebut kepada kekasihnya.
Langkahan kakiku begitu cepat. Diiringi senyum aku melangkah seorang diri. Terbayang-bayang apa yang baru saja aku lakukan dengan pria yang selama ini singgah dalam anganku. Kubaringkan tubuhku. Kutarik nafas perlahan. Kupejamkan mata senduku. Terbayang sosok pria itu kembali. Teringat peristiwa di sudut pantai di indahnya metafora senja. Terlelap aku dalam kebahagiaan raga dan jiwa. Berselimut mimpi yang kuharap muncul sosok pangeranku kembali.
Tak lama kupejamkan mata, terdengar suara dering telepon genggamku.  Sembari memejamkan mata. tanganku meraba mencari asal dering suara tersebut. Kubuka mata perlahan, terasa berat kurasakan. Namun, aku tersentak saat mengetahui kontak Vino pria itu sedang menelponku. Segera kubenahi diri.
“Hallo, Vita, ini Vino. Ada waktu luang bertemu denganku ?” tanya Vino samar-samar.
Aku tersentak mendengar kalimat yang telah meluncur dari bibir manis pangeranku. Rasa tak percaya perlahan muncul merambat ke ragaku. Seolah aku tak kuasa untuk menolak tawaran date pertama kali dengan lelaki pujaanku.
“Ii..iiya, ada kok. Sekarang ?” tanyaku gugup.
“Kalau bisa, ya, sekarang. Aku tunggu di Caffe Metta Dewata.” jawabnya.
“Iii..iiya, tunggu sebentar, ya.”
Segera kumatikan telepon dan bergegas mengambil handuk. Aku mengejar waktu. Ingin sekali rasanya  cepat bertemu dengan pria itu. Tak peduli apa pun itu. Kuriasa wajahku perlahan. Kupoleskan bedak di wajahku dengan merata. Kurias dan kurias wajahku sedemikian rupa. Kubelai perlahan rambutku. Kurapikan hingga rasa puas mendekapku. Tersenyum kepada pantulan ragaku sendiri. Segera kupilah gaun. Hingga pilihanku jatuh di gaun hitam yang kontras dengan kulit putihku. Gaun dengan bawahan di atas lutut, dan tanpa lengan serta melekat ketat indah di badanku sehingga terlihat bentuk tubuhku. Perlahan kulangkahkan kaki dengan senyum. Hati terasa berdebar-debar menemuii pangeranku. Gugup dan gugup.
Terlihat pria itu sedang menunggu di sudut caffe yang sunyi. Kuhampiri dia. Namun, terasa ragaku tak ingin menemuinya. Entah mengapa aku tak tahu. Terasa beku untukku berjalan menghampirinya. Kuhembuskan nafas perlahan dan rileks sejenak seraya memikir pria itu. Tanpa pikir panjang kendala itu dapat kuatasai. Kuhampiri dia dan perlahan singgah di sisinya.
Indah dan sangat indah. Pria itu menatap ragaku berbinar-binar sembari meluncurkan pujian pada penampilanku. Seraya terombang-ambing tubuhku di air surga. Aku sangat bahagia mendengar apa yang ia katakan. Canda tawa mengisi date terindahku malam itu. Sangat mengesankan ketika dia mengecup keningku seraya mengucap kata cinta dan sayang. Hatiku bergetar tak menentu.
Ough…! Thanks God ! My first love.” gumamku dalam hati.
“Vin, you are my first love.” kataku berbinar-binar.
Really ?” sentaknya.
Really.” jawabku tersenyum bahagia.
Ragaku benar-benar melayang. Terombang-ambing sang bayu di singgasana surga. Pangeran yang selama ini singgah dalam anganku, muncul begitu saja di pelupuk mataku. Menghiasi hati ini yang sunyi. Memberi kehangatan pada mata ini yang bergetar membeku. Mengisi kesunyian jiwa menunggu belaian mesra cinta yang sangat kunanti.
Hari-hari kujalani berdua. Tiada sedetikpun waktu yang lenyap tanpa senyum indah dia. Aku benar-benar tak mempedulikan apapun. Entah itu sahabatk, entah itu orang tuaku ataupun harga diriku. Hanya bayang-bayangnya yang mengelilingi pikiranku. Aku seperti terhipnotis dengan belaian mesra cintanya, senyum indahnya, dekapan rasa sayangnya. Pikiranku hanya tertuju pada satu orang yakni Vino pria pujaanku. Tak bisa aku lepas dari dekapannya. Tak bisa aku hilang dari anganku tentangnya, karena dia pria yang selama ini aku damba-dambakan. Hingga suatu saat karma itu mengikatku. Kehancuran hati. pudar cinta pertamaku. Ketika kuberpagut mesra di sudut pantai di dinginnya malam di sunyinya malam. Kenikmatan yang sudah biasa aku lakukan dengan pria sejatiku Vino terpaksa terpotong dan lenyap dengan kehadiran kekasih resminya Lia, sahabatku sendiri.
Deraian air mata mengalir dari lekukan wajah manis Lia tatkala menyaksikan insan yang sangat ia sayangi berpagutan mesra dengan sahabatnya sendiri. Sahabat sedari kecil, sahabat suka, sahabat duka, sahabat yang selalu mengerti mengkhianatinya. Sungguh ku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku..aku bingung, aku bodoh, aku…aarrghhhhh! Amarahku memuncak tatkala Lia mendaratkan tangannya dengan keras di pipiku. Mataku seolah menatap tajam melihatnya. Kubangkitkan ragaku. Kuhampiri dia yang tengah beraliran air mata. Kutengadahkan kepalaku. Kuacungkan telunjukku dan kudorong kuat-kuat muka lusuhnya.
“Lia..Lia ! Kenapa ? Marah, he ?(kudorong mukanya). Marah kau lihat aku mesra dengan kekasihmu. Hatimu ke mana ? Otakmu ke mana ? Pergi, ya, ke Laut ? Lihatlah kekasihmu, lelakimu, priamu yang sangat kau cintai butuh waktu. Tak hanya butuh perhatianmu, tak hanya butuh cintamu. Mana pengertianmu ? Lihatlah, berpaling, kan, dia denganku. Ini berarti aku lebih segalanya darimu. Lebih cantik atau lebih apalah. Busshhiittt…. cuih !” luapanku sembari menamparnya dan berludah di dadanya.
Sejenak Lia terdiam membisu. Demikian juga dengan Vino. Sedari tadi dia hanya terunduk lesu di bangku. Tak menyempatkan waktu sedikitpun untuk memandang kami yang tengah mamuncak amarahnya.
“Vita..Vita sahabatku dari kecil. Sahabatku…sahabatku ? Apa sahabat anjing ? Benar-benar kau ini. Sama aja dengan anjing. Seharusnya kau berpikir sebelum kau melakukan ini semua. Anjing, ya !” teriaknya sembari memegang pipinya dan meninggalkan ami berdua.
“ Hey… yang anjing itu kamu !” sahutku.
Aku tak memikirkan semuanya. Apa aku yang salah. Kuteguk dalam-dalam bir beberapa botol. Namun, tiba-tiba aku menangis. Teringat masa-masa indah bersama Lia. Teringat saat dia merelakan orang yang dia suka demi aku bahagia. Teringat saat dia mendekapku ketika aku menangis merasakan sakitnya hati. Aku jahat. Aku kejam. Sahabat suka, sahabat duka, sahabt yag selalu menemaniku tatkala aku tengah kesepian, sahabat yang mendekapku tatkala kusedih, dan sahabat yang rela berkorban demi aku bahagia lenyap karena keegoisanku. Lenyap karena kecerobohanku. Aku..aku…aku tak pantas hidup. Mengapa kulakukan ini semua. Aarrgghhhh…! Aku benar-benar menyesal. Mengapa kulontarkan kata-kata kasar kepadanya. Apa balasanku atas apa yang telah ia lakukan dulu kepadaku.
Sesaat kucari-cari benda yang sangat penting bagiku. Kudengarkan dendang lirih alunan suara kami tatkala kecil dengan iringan musik sederhana. Kunyanyikan perlahan dengan berderaian air mata. Tak lama aku bernyanyi, terdengar ketukan pintu. Kuberjalan dengan sempoyongan menghampiri pintu dan perlahan kubuka. Tak ada seseorang  di luar. Namun, saat kutundukkan kepalaku. Terlihat sepucuk surat berceceran darah. Kubuka surat itu perlahan.
 
 
 
Teruntuk,
Vita sahabat terbaikku.
Vita, maaf kata-kata kasarku tadi. Maaf sekali. Kamu benar, aku yang anjing. Aku tak bisa mengerti perasaanmu. Aku yang salah. Aku tak bisa mengerti apa mau Vino. Vita, kita sahabat. Kita sahabat selamanya. Aku yakin kita takkan terpisahkan. Tapi entah aku tak tahu. Mungkin sekarang atau beberapa menit bahakan jam lagi aku sudah berjalan menuju neraka karena menyakitimu Vita.
Vita ingat, kan, masa-masa dulu saat kamu menangis karena mantan kamu yang dulu ? Lucu banget , Vit. Ingin sekali aku tertawa tapi aku takut kamu marah. Tapi, saat aku menangis kemarin lucu juga, kan, bahkan lebih lucu dari kamu.
Jaga hatimu untuk Vino. Jangan lupakan aku, Vit. Aku sungguh menyayangimu. Mungkin kamu tidak. Tapi ini harapanku dari dulu. Bye to forever !
Tertanda,
Lia  
Sekejap segera kulangkahkan kaki berlari di tengah derasnya hujan. Aku yakin surat itu dari Lia. Aku yakin Lia masih hidup. Aku yakin Lia masih ada di dekatku. Aku menangis tak henti-henti. Terus berlari meneriakkan Lia, mencari Lia.
Aku tersentak. Rasa tak percaya mengelilingiku. Kulihat rombongan warga sedang berkerumun. Pikiranku sudah ke mana-mana. Apa itu Lia. Segera kupecahkan kerumunan itu dan kutemui sahabat yang aku sayangi berlumuran darah. Segera kupeluk erat-erat Lia.
“Lia… maafkan aku. Lia jangan pergi, Lia, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Liaaa !! “ teriakku sembari menangis.
Aku benar-benar tak percaya ia tiada. Ini semua salahku. Aku sungguh sayang dia. Aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal.

Kelabu

Posted: Juni 16, 2012 in Uncategorized
Sayapku tak mampu terbang lagi, terbang untuk menghampirimu. Walau diriku tak lagi bersandar denganmu, tapi  bayangmu  masih  mengitari anganku. Aku disini hanya sendiri. Sanak tak ada, saudara entah kemana, kawan serta lawan tak tahu kabarnya. Walau bunga masih tersenyum bermekaran, tapi hatiku tak  mungkin bisa bermekar karena hatiku layu oleh pengkhianatan. Sabar, sabar, dan sabar memang itu sifat yang kuutamakan.
Galau memikirkanmu. Itu aktivitasku tiap hari. Di malam ini, aku sendiri. Di lantai atas, di dalam  kamarku. Aku  duduk  termenung  bersandar dinding. Kurekatkan daguku dengan lutut yang kunaikkan. Kulingkarkan kedua tangan di lututku. Mata sendu yang tanpa lelah menatap dunia ini perlahan menutup. Mulai memikirkan masa lalu, masa-masa indah dengan dirimu. Perlahan muncul sesosok wanita cantik dalam gelap itu dalam bayang semuku, bersinar wajahnya, tergurai rambut panjang hitamnya, matanya seolah mencoba berbicara dengan siapa yang melihatnya, dan tersirat makna indah dalam dirinya. Dan itu dirimu. Semua masa lalu seolah tergambar begitu saja dalam anganku. Teringatnya, teringat masa silam, perlahan air mataku mengalir. Teringat kala kau mengusap air mataku saat aku bak jelata, teringat kala aku susah kau ikut gelisah. Dan teringat saat aku terpukul kau merangkul.
Di tengah derai hujan ini, aku menangis tak henti-henti. Mungkin aku merasakan sakit masa lalu atau aku ingin mengulang itu. Kubuka perlahan mataku yang penuh dengan luh. Kupandang sekeliling dan kutemukan fotomu menempel di dinding sampingku. Kuulurkan tangan dan kuambil perlahan. Menatap wajahmu di bingkai itu buatku menangis kembali. Entah takdir apa ini aku kehilangan orang yang aku cintai. Kubaringkan tubuh lelah ini di kasur. Kututup mataku dan fotomu singgah tepat di dadaku. Aku terlelap dan berharap aku memimpikan masa lalu dengan gadisku.
Kala esoknya, aku teringat sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 7 Desember 1997. Dan aku masih ingat itu. Aku duduk termenung di sudut taman sembari membawa secarik kertas tak berpena di tangan kiri dan dan pensil terjepit di bawah ibu jari tangan kiriku. Aku bermaksud mencoba membuat beberapa bait puisi, Tapi itu mustahil. Aku tak biasa menulis dengan tangan kiri.
‘’Apa aku memang Kau takdirkan seperti ini?” gumamku.
‘’Aku ingin punya potensi seperti yang lain, tolong berikan! Aku sudah terlalu lemah!” lanjutku.
Aku mengeluh. Karena putus asa, kugerakkan kursi berjalan ini maju mundur dengan maksud untuk pergi meninggalkan taman.
‘’Aarghhh… kenapa kursi tua ini?’’ teriakku.
Kursi rodaku tak dapat berjalan. Entah mengapa aku tak tahu. Wajahku panik hingga mengeluarkan banyak keringat. Aku pun turun perlahan dari kursi roda tua itu dengan bantuan tangan kiriku dan pohon di sampingku.
“Bruukkk.’’
Aku terjatuh dengan pergelangan tangan kananku yang tanpa daya ini tertekuk. Terasa sangat nyeri, namun kulupakan. Kucoba perbaiki kursi rodaku satu-satunya ini. Ya, pasti dengan tangan kiriku karena tangan kananku tak ada daya dan aku pun tak bisa berdiri karena dua tahun yang lalu ragaku terlibat peristiwa hebat di rel kereta api. Aku berjalan dengan kawanku pulang dari pusat kota dengan membawa gitar kecil atau yang biasa disebut kentrung di tangan kananku memakai pakaian kotor layaknya punk. Dengan Supri, teman sepermainanku dari kecil. Ia berkulit putih dan berbadan besar. Sekilas memang dia terlihat seperti preman. Namun, dia punya hati yang baik dan lemah lembut. kami berjalan berdua menyeberang rel kereta api karena gubukku berada di samping bawah rel kereta api itu.
‘’Ayo, ta, Pri! Cepet! Ini palang sepurnya gak turun, lho!’’ kataku dengan logat jawaku.
‘’Eh, bentar, lho! Siapa tahu rusak iku palangnya!’’ bantah Supri dengan logat jawanya pula.
Aku tak mempedulikan Supri dan langsung menarik tangan kirinya. Sewaktu berjalan di atas rel, aku berhenti sejenak karena kurasa mataku terkena sesuatu. Kucoba mengusap mataku. Terdengar suara bising dari samping kanan namun kuhiraukan. Sesaat aku pun sadar.  Aku kaget, kupandang asal suara itu sembari masih mengusap mataku. Terlihat samar-samar. Aku tak tahu kalau itu kereta api.
‘’Wahyu! Iku sepur! Minggir!’’ teriak Supri sembari menarik tanganku.
Aku tersentak dan segera melangkah dari rel namun sia-sia. Kakiku tertabrak dan tubuhku terseret 50 meter dari tempat tersebut. Tubuhku terpelanting dan terguling. Tangan kananku tertekuk dan patah. Aku pejamkan mataku tak mau melihat apa yang terjadi. Dan kurasa aku tak sadarkan diri.
Dua jam kemudian, aku sadarkan diri. Kulihat aku ada di ruangan bercat putih dan aku pun diselimuti kain berwarna putih jua. Terdapat selang di tanganku dan di atas hidungku. Tak ada seseorang di sisiku kecuali dia Supri. Kupandang wajahnya, terlihat dia seperti orang panik dan gelisah.
‘’Hai, Wahyu! Gimana awakmu?’’ kata Supri samar-samar di telingaku sembari membelai tanganku.
Aku tak menjawab hanya diam.
‘’Tadi kakimu tertabrak sepur! Awakmu mental 50 meter. Aku marani sampean, teriak-teriak minta tolong. Akibatnya, iku kakimu gak ada satu. Tanganmu patah. Badanmu lecet-lecet. Salahmu, sih,  gak denger aku! Ceroboh, sih, sampean!’’ kata Supri sembari membuka selimutku.
Aku tengok ke dalam, ternyata benar adanya. Kaki kananku, lenyap tak ada. Aku cacat. Aku tak percaya ini semua. Aku menjerit sekeras mungkin.
‘’Aarrrghhhhhhhhhh…..!!!!”
Kucoba mengangkat tangan kananku, namun tak bisa. Aku semakin keras menjerit. Tangan kiriku kuangkat perlahan dan menarik rambutku kuat-kuat.
‘’Aaaarrrgghhh….!!! Ya, Allah Gusti! Supri gimana iki! Supri!! Arrgghhh…!!’’ aku menangis dan berteriak sekeras mungkin.
Wis, wis! Sampeyan gak boleh gitu. Ini cobaan, Wahyu. Sampeyan seharusnya bersyukur masih hidup! Wis, wis!’’ hibur Supri sembari menurunkan tangan kiriku.
Aku berhenti mengamen di ibukota dan Supri-lah yang merawatku. Soal biaya rumah sakit aku tak tahu dan aku pun mana peduli. Namun, tiga bulan setelah aku pulang dari rumah sakit, Supri tiba-tiba saja pergi dari rumah susun ini tanpa kabar hanya meninggalkan secarik kertas yang berisi  tulisan :
Daa..daa Wahyu !!
Salam sayang,
Supri Arek Malang
Aku tak tahu itu berisi apa dan bertujuan apa. Supri sungguh tega tapi aku hutang budi dengannya. Baru pertama ini dia berani meninggalkanku dan sendiri, padahal dulu sering pergi berdua, bergandengan pula. Dan surat itu akan aku simpan.
Aku pun hidup sendiri dan apa-apa sendiri. Aku meninggalkan rumah susun itu dan bekerja ulur tangan di samping jalan. Sekitar dua bulan kemudian, aku tak lagi bekerja layak itu karena aku ditarik SATPOL PP dan dimasukkan ke pusat rehabilitasi di daerah ibukota bagian selatan dan hidup di sana sampai sekarang.
Aku terkaget saat kurasakan ada sentuhan di pundakku. Dan dengan rasa penasaran aku mencoba menolehkan mukaku ke belakang.
“Ada yang bisa saya bantu?” katanya.
Melihatnya aku tak bisa apa-apa. Matanya berbinar-binar. Suaranya lembut. Wajahnya mempesona bak Lady Diana. Badannya ramping tapi atletis, tinggi semampai. Rambutnya hitam panjang tergurai.
“Ayu tenan, Rek!” refleksku sembari terus menatapnya.
“Maksudnya?” tanyanya heran.
Dengan sigap segera aku benahi bajuku dengan tangan kiriku. Merapikan rambutku dan menampilkan wajah manis di depannya.
“Ehh…ehhh, nggak apa-apa. Cuma ada kesalahan teknis kok!” kataku berusaha dengan bahasa gaul anak zaman sekarang.
“Bisa aku bantu berdiri?” tawarnya sembari mengulurkan tangan kirinya.
Manteb iki!” kataku dalam hati.
Dengan tersenyum aku ulurkan tangan kiriku. Dia membalas senyumku dengan senyum manisnya. Dia bantu aku berdiri, dia rangkul punggungku dan itu buatku merinding, karena baru kali ini aku disentuh wanita yang amat cantik. Ya, bukan berarti dulu jelek-jelek.
Aku duduk di kursi rodaku. Tanpa basa-basi dia langsung mendorong kursi rodaku perlahan, membawakan kertas dan pensilku dan mengajakku mengelilingi taman kota. Tak terasa jantungku berolahraga. Berdegup sangat cepat. Aku malu dan sungguh sangat malu. Dan timbullah rasa tak percaya diri dalam diriku. Aku manusia yang sangat tak sempurna sedang berjalan-jalan dengan wanita cantik yang sangat sempurna.
Kupandang wajahnya, dan kutatap matanya dalam-dalam. Aku mencoba mencari perhatian darinya. Dan kurasa itu tak sulit. Ia langsung saja tersenyum kepadaku dan mengajakku berbincang-bincang.
“Rumah kamu dimana?” katanya.
“Aku tinggal di belakang taman.” jawabku singkat.
“Ke sini sama siapa?”
“Sendiri. Aku bosan di sana. Tak ada kerjaan, tak ada teman pula.”
“Terus ke sini mau ngapain? Sama saja di sini juga bosenin.”
Belum sempat menjawab, ia menghentikan lajunya dan berjalan tak jauh ke belakang. Kutengok, rupanya ia tengah berbincang-bincang lewat telepon genggamnya. Aku hampiri dia pura-pura tak tahu. Belum sampai di tempatnya, ia langsung membalikkan badan dan menghampiriku.
“Dari siapa?” tanyaku.
Nggak, nggak siapa-siapa, kok. Oh, ya, tadi disini tujuannya apa?” jawabnya.
“Oh, ini mau buat latihan nulis dengan tangan kiri. Aku mau coba buat puisi. Waktu SMP dulu aku, kan, juara lomba puisi. Mau aku coba kembangkan lagi.”
“Hmmm… ya, bagus ! Boleh, aku bantu? Kapan-kapan bisa, kok, aku pergi ke tempatmu.”
Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum dan  menganggukan kepalaku. Dan dia menceritakan beberapa hal tentang pengalamannya, kehidupannya, dan keluarganya. Aku pun demikian. Dengan jujur, kuceritakan semua yang menimpa diriku. Mulai dari kecelakaan dulu, pekerjaanku yang hanya mengamen, dan keluargaku yang hilang entah kemana. Sebenarnya ada sedikit rasa malu pada diriku tentang semua itu. Sejak kecil aku memang terkenal dengan orang yang pemalu, walaupun perawakanku gagah dan wajahku sekilas terlihat sadis. Namun, bagaimana lagi? Aku tak ingin gadis cantik itu kecewa.
“Ehh..siapa namamu?” tanyaku malu.
“Oh, ya, lupa. Kita belum kenalan. Perkenalkan aku Putri.” jawabnya dengan mengulurkan tangan lembutnya.
“Namanya indah seperti wajahnya.” batinku.
“Ehh..ehhh, namaku Wahyu.” kataku dengan menganggukan kepalaku dan membalas jabatannya.
Kupikir Putri adalah gadis yang sangat baik. Mau berteman dengan siapapun tak memandang apapun. Buktinya, dia mau berteman denganku walaupun fisikku seperti ini. Tapi, aku juga tak tahu kehidupan Putri bagaimana dan aku berniat ingin mengenalnya lebih dekat. Sangat berharap untuk bisa menjadi orang istimewa di hatinya.
Dua tahun aku berteman dengan Putri. Tak terlihat hal aneh dan buruk darinya. Itu pun tak aku pikirkan. Karena aku hanya memikirkan kebaikan dari seorang Putri yang baru-baru ini telah meluluhkan hatiku.
Senja hari, seperti biasanya Putri datang ke tempatnya dengan membawa kue. Ia hari ini sungguh lain. Rambutnya yang biasanya terurai, hari ini di ikat setengah memperlihatkan ia wanita yang anggun dan kalem. Biasanya memakai baju bluss panjang, hari ini ia memakai celana jeans ketat putih dan tank top ditutupi dengan jaket kuning yang pas di badannya. Semua temanku memandang Putri dengan penuh gairah, seperti juga aku. Aku yang biasa malu dengannya, melihat penampilannya hari ini, aku seperti ditarik olehnya. Aku menjadi agresif dengannya, dan rasa maluku itu lenyap begitu saja. Dan aku berpikir, apa Putri seperti itu memang disengaja agar semua lelaki mengagumi tubuh indahnya? Kalau  begini terus keadaannya, lama-lama aku bisa juga muncul birahi dengannya.
“Hai, Wahyu! Gimana penampilanku hari ini? Cantik, kan? Oh, iya, bagaimana puisimu? Sudah selesai?” katanya sembari melingkarkan tangannya di pundakku.
Hatiku berdesir karena terlihat sesuatu dari tubuhnya. Dan aku pun tak mau melihatnya.
“Ya, Allah! Astagfirullahal’adzim. Paringana kekuatan, ya, Allah.” kataku perlahan dengan memejamkan mata.
“Hai, jawab Wahyu! Kagum, ya, kamu? Jangan malu-malu dirimu.” tanyanya sekali lagi dengan mendekatkan mulutnya ke telingaku.
Aku semakin takut dan terus memejamkan mataku. Lalu, aku berusaha tak menunjukkan rasa takutku dengan perlahan membuka mataku perlahan.
“Ehhh..ehhh, iya. Sudah, kok, aku ambilkan sebentar!” jawabku sembari menuju kamarku.
Lima menit kemudian, aku menemuinya yang tengah asyik berbincang-bincang dengan teman-temanku. Putri duduk di tengah-tengah mereka. Dan ia selalu menunjukkan sikapnya yang centil. Kulihat tingkahnya, muncul suatu hal dalam pikiranku. Apa itu dirinya sebenarnya?
“Ehm.” gumamku memecah suasana.
“Eh, Wahyu. Sudah, ya? Ayo, pergi ke taman!” katanya sembari menghampiriku dan memutar kursi rodaku.
“Daa..daa,  semuanya!” teriakknya dengan melambaikan tangan ke arah teman-temanku.
Dalam perjalanan, ia terus berbicara dan aku hanya diam tak menjawab sedikit pun kata darinya. Aku sedikit mual dengan sikapnya, namun, hati ini terus menginginkannya walau itu mustahil.
“Putri, berhentilah bersikap itu tadi! Aku tak suka.” kataku tak menatapnya.
“Kamu tak suka denganku? Kamu benci denganku? Maafkan aku !” katanya.
“Jangan sedih! Aku hanya menasihatimu! Aku suka kamu yang dulu. Anggun, kalem, baik hati. Berubah, ya, demi aku! Aku sayang kamu, kok.” kataku menghiburnya.
“Iya. Maaf, ya. Aku seperti ini karena aku pikir kau lebih suka dengan aku yang seperti ini.” katanya.
“Tidak, Putri. Aku suka dirimu, hatimu, dan sikapmu yang dulu. Karena itu semua telah meluluhkan hatiku. Kamu mau berbagi hidup denganku?” kataku dengan memberanikan diri.
Dia hanya menganggukkan kepala tanda bahwa dia setuju. Aku sangat bahagia. Aku bisa menggandeng gadis cantik sepertinya. Percaya diriku tumbuh lagi. Aku kini menjadi lelaki paling beruntung di dunia karena mendapatkan gadis seperti Putri. Dan mulai hari itu, Putri seperti dulu lagi dan aku menjalani kehidupanku dengan semangat baru karena Putri. Hatiku sudah terisi penuh dengan Putri seorang. Hidupku sudah berbeda lagi dan berubah karena Putri. Memang dialah gadisku.
Aku pun sangat bersyukur punya gadis seperti dia dan berkali-kali meminta doa kepada Yang Kuasa agar membuka hati Putri agar ia seterusnya mau bersanding denganku. Dan doa itu tak dikabulkan adanya.
 Baru satu tahun aku menjalani cinta dengannya, ia meninggalkanku begitu saja tanpa kabar. Aku berusaha mencarinya namun sia-sia.
Hampir-hampir saja aku tertabrak truk pasir karena ketidakkonsentrasiku karena aku hanya memikirkan Putri.
 “Putri, dimana dirimu, Sayang? Aku mencarimu. Datanglah sekarang!” batinku.
Aku datang ke beberapa orang, bertanya dimana Putri tinggal. Ada yang memberiku uang receh, ada yang menangisiku. Aku tak peduli, hanya Putri yang aku inginkan tidak itu semua.
Akhirnya aku beristirahat di depan di rumah besar berbentang janur kuning di depannya. Hatiku merasa tak tenang setelah aku melihat foto gadis dengan lelaki berpakaian pengantin di samping janur tersebut. Dan itu tak asing karena gadis itu adalah Putri dan lelaki itu kupikir dia Supri. Berbeda, terlihat di foto dia lebih putih dan gagah. Perlahan air mataku menetes. Dengan menumpuk rasa penasaran, aku masuk ke dalam rumah besar itu.
“Putrii…Putri…!” teriakku sembari menangis.
Penjaga di sana  melarangku untuk masuk tapi aku tak peduli. Berteriak dia dengan  sekeras mungkin. Memang bandannya tegap, dan gagah. Teriakannya lantang dan sikapnya keras.
“Kamu tak ada izin di sini ! Keluar gembel !” larang penjaga.
 Hanya satu yang aku pikirkan, yakni Putri. Semua tamu disana memandangku dengan terheran-heran. Penjaga menghalangi langkahku, menarik lengan bajuku hingga sobek di sisi kiri. Kubiarkan saja, terus aku melangkah. Tak peduli aku cacat, tak peduli banyak hinaan, dan tak peduli bajuku sobek compang-camping layaknya pengemis.
Ternyata dia benar Putri adanya. Dan disampingnya adalah sahabatku Supri. Aku benar-benar tak percaya. Aku terus meneteskan air  mata. Semua tamu memandang ke arahku sembari bertanya-tanya. Aku memutar kursi rodaku di tengah-tengah barisan tamu dengan menangis dan berteriak-teriak.
“Putri, aku sayang kamu, Putri. Mengapa kamu begini? Apa sebenarnya maumu?(aku terus menangis) Putri, kita sudah satu tahun menjalin hubungan. Kemarilah !” teriakku didepannya sembari membungkukkan tubuhku.
“Wahyu ! Apa yang kamu lakukan? Ini Putri istriku! Tak patut kau seperti ini.” bentak Supri.
“Supri kamu diam! Ini Putri pacarku. Kau pengkhianat Supri.” teriakku.
Aku terus menangis di hadapan mereka. Dan terdengar juga suara tangis dari tamu-tamu yang datang. Sepertinya mereka kasihan denganku.
“Wahyu, aku tak pernah mencintai orang cacat macam kamu. Tak pernah dan sekalipun tak pernah. Tak sudi aku punya lelaki cacat, dan miskin seperti kamu.” sindir Putri dengan mendorongku.
Aku jatuh ke belakang dan keluar dari kursi rodaku. Beberapa dari tamu itu membantuku kembali duduk di kursi roda. Di depan mereka, aku merobek puisi yang telah basah oleh air mataku. Aku meninggalkan neraka itu dibantu penjaga yang melarangku tadi. Dengan susah payah, dengan lelah, aku mengayuh dengan satu tangan kiriku.
“Pengkhianat kalian. Biadap !!” teriakku sembari keluar dari neraka tersebut.
Teringat itu semua. Terbayang masa semu dahulu yang tiba-tiba memeluk pikiranku.  Andaikan itu semua bisa terulang, akan kuulang. Namun, tak mau merasakan sakit itu. Andaikan bisa diubah, pasti kuubah. Namun, itu tak mungkin adanya.
“Ya, Allah Gusti! Berilah kesabaran ! Mengapa Kau beri cobaan yang sangat berat? Apa salahku, ya, Allah? Aku, kan, sudah sholat, bersujud, menyembahmu, berbuat baik, dan aku sudah beribu-ribu kali memuji-Mu, ya, Allah!” kataku di sela  tangis.
Aku menangis di balkon. Sebenarnya aku malu menangis terisak-isak seperti ini, disaksikan banyak kawan di belakangku. Awalnya aku tak mengetahuinya. Namun, setelah terdengar seseorang terisak-isak aku segera menolehkan wajahku. Terlihat Roni menundukkan kepalannya dan mengusap-usap matanya. Aku tak menduga, tubuhnya yang kekar dan berotot, sikapnya yang selalu kasar dengan siapapun bisa juga menangis. Apalagi hanya sebab kecil seperti ini. Aku segera membersihkan wajahku dari deraian air mataku.
“Wahyu, macam mana kau ini! Aku tak pernah menangis sekalipun. Sungguh  tega kau, Wahyu! Turun, lah, pangkatku jadi preman suku! Kau ini dari luar saja badanmu besar, tapi cengeng juga kau ini ! Sudahlah, jangan nangis ! Senyum.” kata Roni.
Aku pun tersenyum melihatnya. Demikian pula dengan kawan lainnya. Rasanya sakitku sedikit berkurang. Aku tak menyangka Roni begitu perhatian denganku. Roni menghiburku. Penghibur yang menghilangkan laraku. Melihat tawa mereka aku teringat Supri. Dia sahabat satu-satunya yang mengerti aku. Dia pun juga sahabat satu-satunya yang mengkhianatiku. Dan itu sekali kurasakan memang sangat perih. Kala teringat itu semua aku buka surat singkat Supri lalu. Kubaca hanya dua kata singkat. Rasa penasaranku memaksa naik, aku bolak-balik kertas itu dan kutemukan tulisan kecil di pojok kanan bawah. Kuamati dengan seksama tulisan itu yang ternyata berbunyi :
Supri ! Aku sudah dapat jodoh ! Aku orang kaya !
Aku tersentak dengan tulisan itu. Aku pun tak menduga Supri menulis kata-kata seperti itu dan mengapa harus ditulis di tempat terpencil di sudut kertas. Padahal, sejak awal bertemu dengan Putri, aku sudah yakin dia kasihku, dia cintaku, dan dia pemilik hatiku. Apalagi dengan Supri. Supri yang kukenal dulu tak pernah sekalipun menyakitiku, mengkhianatiku, bahkan membuatku menangis sampai seperti ini. Mereka memang pengkhianat. Berhati kotor, tak punya perasaan sedikitpun, dan hanya mengandalkan buai-buai omong kosong yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Aku harus sabar dan tabah menghadapi ini semua, dan aku memang benar-benar sabar.
Dan aku pun berniat. Hingga esok, aku tak akan mengingatnya, mengasihaninya, bahkan memberinya senyum sedikitpun. Walau, masih tersisa titik cinta kecil di hati ini, aku harus menghapusnya. Dan kekelabuan itu akan kutelan walau dengan terpaksa.

Kejutan

Posted: Juni 16, 2012 in Uncategorized

Tujuh menit kulalui. Tiada kawan, lawan. Tak ada tanda-tanda kehadirannya. Telah kunanti dan kuharapkan. Semoga dia datang.

Di taman ini, aku gelisah menantinya. Namun, kucoba menenangkan diri. Kuambil nafas dari hidungku dan kuhembuskan keluar dari mulutku perlahan. Angin senja belari di sela-sela telingaku, membuatku terngiang kata-kata darinya.
“Aku tak akan meninggalkanmu.”
Dengan sekejap terasa ai mataku memaksa keluar dai pelupuk mataku. Dan kubiarkan mengalir begitu saja. Aku menangis di tengah senja yang sejuk ini. Merasakan sesuatu yang terasa ganjal dalam hatiku.
“Mengapa aku menangis? Apa yang terjadi dengan Edo?” tanyaku dalam hati.
Air mataku terus berderaian membasahi wajahku. Bayang Edo mengelilingi benakku. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan dirinya. Kucoba tenang dan kuusap ari mataku yang terus keluar.
Terlihat dari arah barat, seseorang datang menghampiriku. Lengkap dengan kemeja putih rapi, celana jeans hitam, dan sepatu putih. Dialah Edo yang kutunggu-tunggu. Edo memang terlihat menawan dengan pakaian sedemikian rupa. Namun, terlihat yang menggannjal darinya. Wajahnya pucat. Bibirnya putih. Tersirat tanda tanya dalam pikiranku. Segera aku hampiri dia dan kulingkarkan tanganku ke tubuhnya seakan aku tak mau pergi darinya.
“Edo, kamu pucat. Tak tega aku menatapmu.” bisikku sembari terus memelukknya.
“Aku tak apa.” jawabnya singkat dengan membalas pelukanku.
Aku tiba-tiba saja menangis di pelukannya. Dadanya yang bidang basah dengan air mataku.
“Sudah, Rena! Tenanglah! Aku tak apa.” hiburnya.
Aku diam sejenak. Dan Edo melepaskan pelukanku. Diulurkannya tangan ke arahku dan mendarat di pundakku. Edo menekan pundakku dengan maksud menyuruhku duduk. Kala itu aku terus menangis. Dan tak berani membuka mata se-mili pun.
Namun, keadaan memaksaku. Kubuka mataku perlahan. Kulirik matanya dan aku tak tega. Aku terus meneteskan air mata.
“Rena, apa yang kau pikirkan? Apa yang ada di benakmu? Kalau kau menangis seperti ini aku semakin sakit. Tenanglah. Aku tak separah yang kau pikirkan.” katanya.
Dia mendaratkan mulutnya di keningku dan itu membuatku tenang. Kubuka mataku perlahan dan menatap matanya dalam-dalam.
“Aku tak apa. Edo apa kau sakit? Aku tak suka melihatmu pucat seperti ini.” kataku.
Dia diam sejenak. Membisu di depanku. Matanya terpejam seakan menyembunyikan sesuatu. Kemudian, muncul sesuatu yang membuat galau pikiranku. Ditarinya kedua tanganya dan mendarat di sisi rambutnya. Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang mungkin aku tak ada izin untuk mengetahuinya. Kemudian, dia menarik rambutnya sekencang mungkin dan menembuskan nafas perlahan.
“Aku tak apa.” jawabnya singkat.
Aku tak bisa bilang apapun kepadanya. Dan di senja itu kami terdiam. Tak ada kata yang muncu dari kedua mulut kami. Itu adalah pertemuan paling singkat sekaligus paling menjemukan.
Tubuhku terbaring di ranjang. Memikirkan Edo seorang. Tiga belas hari lagi adalah hari lahirku. Aku ingin di umurku yang ke dua puluh ini mendapat kejutan darinya. Namun, itu tak mungkin karena aku sedang tak ada komunikasi dengannya. Atau bisa dibilang kami ribut.
Kuambil selembar foto yang menempel di dinding kamarku. Fotoku dengan Edo empat tahun lalu. Kala itu aku masih kawan dengannya. Dan tak ada rasa cinta sepercik pun di hatiku untuknya. Aku tersenyum melihat foto itu dan membayangkan kejadian lalu. Di kala itu Edo masih terbilang remaja nakal, jail, dan menyebalkan. Siswa yang digosipkan tertampan di sekolahku dan faktanya memang benar. Bahkan, aku sempat menyukainya dan dulu masih dibilang mustahil untuk menjadi kekasihnya, karena aku dulu pendiam dan masih lugu. Teringat aku kala dia menyatakan rasa cintanya kepadaku tepat di saat hari lahirku. Kala itu kami berasa di taman yang biasanya kami tempati sampai saat ini. Dia berteriak sekeras mungkin untuk menyatakan cinta itu dan aku merasa malu saat itu karena banyak teman yang menyaksikan kejadian itu.
“Kringggg….” suara jam weker.
Suara jam weker membangunkan lamunanku. Aku segera pergi ke rumah Edo untuk menemuinya dan mencari tahu keadaanya, karena sudah delapan hari ini aku tak berkomunikasi dengannya.
Di tengah perjalanan entah mengapa langkahku semakin cepat. Aku ingin segera bertemu dengannya dan melepas rindu. Namun, kala lima puluh meter aku melihat mobil Avanza silver melewatiku. Kulihat sepintas dari jendela mobilnya, ada sepasang manusia ada di dalam mobil itu. Tapi, aku sangat ingin mengetahui siapa mereka. Entah mengapa aku tak tahu. Setelah mobil itu lewat aku berpikir dalam tentang mereka yang yang berada di dalam mobil itu.
“Sudah.” batinku dan melangkahkan kaki kembali.
Sampai di rumah Edo terlihat sepi. Segera kuketuk pintunya yang besar dan memanggil-mangil Edo. Namun, tak ada yang membukakannya.  Aku tak suka keadaan seperti ini dan aku berniat duduk bersandari dinding dengan kakiku terjulur. Baru tiga menit dalam keadaan seperti itu aku tertidur pulas di depan rumahnya.
“Non..Non..bangun!”
Mendengar suara itu aku tersentak. Segera aku benahi diri dan bangun dari tempatku tidur tadi.
“Ehh, Bi! Maaf, ya? Edo ada, Bi?” tanyaku dengan membersihkan dan merapikan tubuhku.
“Baru saja pergi, Non.” kata Bibi itu.
Pikiranku sudah kemana-mana. Apa mungkin sepasang manusia yang ada di dalam mobil tadi Edo dan wanita selingkuhannya. Aku sedih membayangkannya.
“Ya, sudah. Terimakasih, Bi.” kataku.
Aku lari dari rumah Edo. Menutup mulutku dan menangis di tengah jalan sembari memikirkan mereka yang tengah dalam perjalanan entah kemana. Sesampai di rumah segera aku masuk kamar dengan membanting pintu sekencang mungkin. Ibu yang melihatku segera menghampiriku di kamar.
“Rena. kamu kenapa? Ren, Rena!” teriak ibu sembari mengetuk-ketuk pintu kamarku. Aku tak mempedulikan ibu, dan terus menangis. Aku juga tak menjawab pertanyaan ibu. Aku menangis di kamar tak henti-henti. Aku tak percaya Edo sekejam itu kepadaku. Delapan hari tak bertemu dengannya. Delapan hari tak berkomunikasi dengannya. Dan tepat hari ke delapan aku sakit hati olehnya. Apakah Edo sekejam itu kepadaku?
Lima hari aku berada di kamar tak mau keluar. Ibu sepertinya khawatir denganku karena setiap hari ibu terus mengetuk-ketuk kamarku. Setiap hari ibu masuk kamarku hanya untuk memberiku makan dan mangambil piring dan gelas kotor untuk aku makan. Sepertinya ibu takut menanyai soal apa yang tengah aku rasakan.
“Edo, mengapa kau seperti itu. Apa salahku Edo?” batinku.
Lima hari terkurung dalam kamar. Menangis tak henti-henti. Bahkan aku tak sadar hari ke tiga belas itu tepat hari lahirku dan anniversary tiga tahun aku menjalin cinta dengan Edo seorang. Tapi selam tiga belas hari sebelum itu aku merasakan sakit hati yang teramat dalam.
Pagi hari, di kala hari lahirku aku terbangun dengan bunga di sisiku. Kue di meja kamarku. Kado-kado mengelilingi ranjangku. Aku terbangun masih mengenakan baju tidurku. Kulihat di lantai banyak bunga mawar merah beberapa tangkai berbaris. Kuambil satu-persatu mengikuti arah bunga itu dan itu menuju pintu. Aku ragu untuk membuka pintu. Namun, setelah aku pikirkan matang-matang aku buka pintu itu dan terlihat banyak bunga di depan pintuku. Kuambil dan kuikuti arah bunga itu.
Bunga itu menuju luar, kembali aku ragu. Aku langkahkan kaki perlahan tak ada siapa-siapa. Aku terus ikuti bunga itu sampai menyusuri jalan raya. Beberapa orang pun memberiku bunga mawar merah namun anehnya mereka memakai baju hitam. Awalnya aku tak mau menerimanya, namun orang-orang itu memaksa. Aku terus menyusuri jalan penuh bunga mawar itu, bahkan aku sampai tak sadarkan diri aku tak mengenakan sandal. Sudah panjang jalasn yang aku lalui, tak ada tanda-tanda apapun. Yang ada hanya bendera kuning dan bunga mawar di atas jalan.
“Bendera kuning? Apa ada yang meninggal?” kataku sembari mengambil bendera kuning itu.
Aku berpikir sejenak, jalan ini adalah seratus meter sebelum rumah Edo. Dan aku tiba-tiba teringat Edo. Segera aaku ambil bunga di jalan secepat mungkin dan benar adanya. Bunga itu menuju rumah Edo. Terlihat di sana orang memakai pakaian serba hitam dan aku melihat beberapa orang yang memberi aku bunga di jalan tadi menatapku dengan muka sedih. Pikiranku seudah kemana-mana. Sampai di depan pintu terbaring seseorang tertutup dengan kain. Melihat itu aku segera berlari dan menghamburkan bunga-bunga yang aku bawa.
“Edo…! Edo..!” teriakku menghampiri Edo yang terbaring lemah tanpa daya.
Aku menangis tak henti-henti. Kubuka kain di wajahnya dan itu benar Edo adanya. Aku menangis berteriak seakantak mempercayai yang telah terjadi. Aku tak percaya mayat yang ada di depanku adalah orang yang sangat aku cintai. Orang yang selama tiga tahun mengisi hatiku, menemani hidupku, mengasihiku, sekarang terbaring tanpa daya tanpa suara. Tubuh Edo aku guncangkan. Aku terus menangis dan meneriakku Edo.
“Edo, aku rindu kamu. Aku tak kuat jika kau seperti ini. Edo bangun Edo bangunlah. Aku butuh kamu, Edo. Aku butuh kamu sekarang. Hari ini hari ulang tahunku. Hari ini hari tiga tahu kita bersama. Aku ingin sampai aku mati kamu tetepa di sampingku Edo. Mana janjimu? Bangun Edo bangun!” teriakku, tangisku.
Terus aku guncangkan tubuh Edo. Kupeluk tubuh Edo erat-erat kucium kening dan bibirnya perlahan. Aku menangis di sisinya. Seseorang yang aku cintai sekarang pergi di hadapanku. Aku memandang dia untuk terakhir kali. Aku tak mampu ditinggalnya, aku tak kuat. Aku tak mau kehilangan Edo. Aku tak mau. Edo, seseorang yang sangat mengerti aku, dan besok tak ada yang mengertikanku lagi. Besok Edo sudah terselimuti tanah. Sudah lenyap, dan itu sangat sakit kurasakan. Aku terus menangis di atas tubuh Edo.
“Anda yang bernama, Rena?” kata seorang wanita di belakangku sembari memelukku.
Aku tak menjawab.
“Edo sayang kamu. Sudah tiga tahun ini dia di vonis dokter kanker darah. Dan umurnya habis sampai hari ini. Selama tiga belas hari lalu Edo menyusun semua ini. Edo membeli bunga, menyiapkan kejutan ini. Selama tiga belas hari kalian tidak bertemu, tidak berkomunikasi. Bukan berarti dia mengkhianatimu, justru dia menyiapkan semua ini dan ini lagu yang ia ciptakan buatmu. Semoga jadi kado terindahmu.” kata wanita itu.
Kuambil kaset dan kepingan CD yang ia berikan. Aku terus menangis dan ibu juga demikian. Memelukku sembari menangisi Edo.
Kala pemakaman Edo, aku hanya menangis bahkan aku ingin ikut dikubur dengannya. Aku bahkan sempat pingsan melihat Edo ditaburi tanah, da tertutup tanah. Aku lemas tak berdaya. Aku terus menangis. Dan aku masih tak percaya ini semua. Memang kejutan terindah yang aku alami.
Satu tahun kehilangan Edo membuatku tak lupa tentang Edo. Kaset yang berisi lagu, dan kepingan CD yang berisi sepenggal video dengan durasi dua jam tak bosan-bosat aku tonton. Hanya sekedar untuk melepas rindu walau penuh tangis aku melihatnya.
Rena, jangan menangis aku tahu disana kamu menangis. Aku di sini bahagia. Kamu harus lebih bahagia. Jangan menangis lagi. Tersenyumlah. Aku masih sayang kamu. Walau sekarang faktanya aku tak ada di sisimu, tapi aku terus di hatimu. Percayalah, setiap waktu aku mendampingi langkahmu. Bayangkan aku ada di sampingmu sekarang. Dan aku memang benar di sampingmu sedang memelukmu. Kuatkan hatimu. Aku sayang kamu. Jangan tangisi kepergianku terus. Aku tak ingin kamu menangis. Jangan menangis sayang! Aku selalu ada di sampingmu. Tak akan meninggalkanmu.Video dan kaset ini menjadi perantara bicaraku di bawah tanah denganmu yang bahagia di dunia.

Hello world!

Posted: Juni 9, 2012 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!